1. Setengah dari satu


   Perpisahan sekolah SD pun tiba, aku bersama 3 teman lainya (Riyan, Dani, dan Egy) melanjutkan ke sekolah yang sama, karena memang kami selalu bersama-sama dari saat balita, walaupun banyak masalah diantara kami dan hampir semuanya pernah berantem satu sama lain, tapi ikatan itu tak pernah tergoyahkan.

   Waktu itu tahun 2000 an awal reformasi, jadi masih wajar jika ada yang berantem, tauran dsb di sekolah, palingan dibawa ke kantor disuruh berantem lagi oleh gurunya, beda dengan sekarang, dikit-dikit main uang, dikit-dikit lapor ke orang tua, ahhh... gak seru, waktu itu malah kita sendiri yang kena marahnya, tapi mungkin memang waktu tidak pernah sama dan pasti bergulir ke yang lebih baik.

   Aku masuk ke salah satu SMP yang ada di Kab. Singaparna dan dimasukan ke pesantren yang lumayan agak dekat di sekolahnya, kata orang tuatuaku sih biar soleh, tiga teman ku juga.

    Aku harus menyesuaikan diri karena tidak lagi satu atap dengan orang tua, dan itu suatu yang menyedihkan, karena belum terbiasa. Belajar mandiri dan mengikuti peraturan di dua tempat yang berbeda, dan jujur disitulah Aku belajar betapa besarnya kasih sayang orang tua terutama yang melahirkan kita, jika kalian yang SMP nya di asrama pasti mengerti.

    Hari pertama sekolah Aku, Riyan, Dani dan Egy agak terlambat datang kesekolah, kesiangan bukan karena bangun siang, tapi banyak yang harus dikerjakan beres-beres nyuci dsb.

   "Kalian dari mana? Kenapa kalian terlambat? Bagaimana nantinya jika kalian sudah terlambat di hari pertama masuk, bagaimana nasib bangsa kita di masa depan hah?!" Ucap salah-satu kakak kelas yang ngospek.
   "Kami memang salah, tapi kami bisa berubah" sahut Egy
"Plaak," Egy ditampar, aku sebenarnya tidak enak tapi Dani menghentikan Egy.
"Tenang" katanya.

 Kami pun dihukum untuk melakukan push up di depan murid-murid yang tidak aku kenal, jujur waktu itu aku sangat malu, karena kita langsung menjadi sorotan, sekolah kami denahnya letter U bertingkat dan ada beberapa bangunan disamping, ya aku sangat senang karena lapangnya besar karena kami sangat aktif sekali dibidang itu walaupun tidak ahli dan bangunannya kelihatan menawan, kami pun dimasukan ke barisan seperti biasanya.

   Sesudah upacara kami pun dipersilahkan untuk melihat pembagian kelas.
  "Ah ternyata kita tidak sekelas" kataku
  "Yang penting masih dekat tuh kelasnya A dan B" jawab Egy.

  Angkatan kami dibagi menjadi enam kelas,  dan kelasku paling pojok dekat jalan, dengan belakang kelasnya masih banyak pohon-pohon menjulang, suasananya sih sejuk tidak seperti sekarang udah banyak berubah, disitulah aku kenal dengan Hendra, anak yang rumahnya dekat dengan sekolah itu, termasuk teman-temannya sekalian.

    Ada juga kakak kelas yang sudah kenal dengan kami berempat yang satu SD, mereka menyambut baik kami, dan kami di ajak ke warung yang ada dibelakang kelas kira kira 30 meteran, tempat dia dan teman-temannya kumpul. Kami sudah ber 7  waktu itu duduk diluar dan Paisal bersama kru nya berada di dalam, senior katanya, boleh kedalam jika kosong.

  Kami banyak berbincang dan Paisal juga yang memberitahu bagaimana suasana di SMP ini termasuk ikatannya dengan SMP"  lain dan juga SMAnya. Waw itu cerita yang menarik dengan pengalaman pengalamannya, dan kami pun menghormatinya.

   Kami pun jadi sering kesana, ketika istirahat atau pulang sekolah, atau juga jika guru tidak ada, dan kamipun juga jadi dekat dengan Aran, yang kelakuan sewaktu SD nya tidak jauh dengan kami berantem pembuat onar dan sebagainya, alhasil duaminggu itu Aku mendapat   banyak teman baru kalu tidak salah ada  lebih orang orang yang ikut ikutan ke kami,
Itu juga dari kelas A dan B, karena aku sekelas dengan Egy, terus Rian dengan Dani.

 Walaupun hanya satu dua dari kelas lain, dan kami juga tahu ada juga perkumpulan lain seperti kami yang jejedugnya Zam-zam, oh iya yang kami anggap ketua juga adalah Dani, dia memang cocok jadi ketua karena memang berwibawa.

   Kehidupan ku di pst allhamdulillah normal pada saat itu solat 5 waktu, ngaji, nalar, banyak yang aku dapatkan, tapi semuanya berubah saat Paisal pindah asrama ke asrama kami, mungkin nanti aku ceritakan, lanjut.

   Tiga bulan kemudian, kelompok kami sudah memiliki lebih dari 30 pengikut, itu dari 3 kelas A,B dan C, karena kelas kita memang dekat, dan sering main kesana sini, menurut rumor angkatan kami lainya ikut ke zam-zam, mereka juga sering nongkrong, tapi di tempat yang beda.

  Saat itu pas jam terakhir ada banyak sekali siswa dari sekolah lain kira kira 80 lebihan yang datang ke gerbang, aku melihatnya dari balik jendela, dan memang karena kelas kami dekat jalan, mereka mulai berteriak dan melempari sekolah kami dengan batu, "Woy kaluar ANJIIING" kami sekelaspun agak panik karena memang tidak tahu apa yang terjadi dan harus bagaimana, prang ada kaca dikelas kami yang terkena batu, aku lihat kakak kelas kami sudah mulai berkumpul di tengah lapang, mereka yang punya nyali menurutku, walaupun sangat sedikit, karena memang waktu itu study tour, oh iya waktu itu disekolahku study tour itu digabung dua angkatan kelas 3 dan 2, karena memang per angkatan hanya 6 kelas, kamipun keluar dari kelas yang ingin keluar, dan disitu aku juga melihat yang lain juga mulai keluar entah dari kelompok kami ataupun kelompok Zam-zam dan ikut berkumpul ketengah.

 "Aya naon ieu maksud?" Kakak kelas
 "Sia nyari gara-gara anjing" sekolah lain
 "Maksudna naon?" Kakak kelas
 "Lah montong sok api-api teu apal" sembari mereka melempari kita batu lagi.

 Aku tahu pasti semua dari kami merasa bingung untuk membalas karena ketidak tahuan yang terjadi, tapi aku juga tidak enak hati melihat mereka melempari sekolah kami dan mengatai kami dengan kata kata kotor.

" Anjiiinnnggg" Egy berlari dengan membalas lemparan batu,
Aku melihat reaksi mereka dan mereka menerobos gerbang  waw itu sangat menegangkan,
Whhooaaaah terdengar teriakan mereka berlari ke arah kami, guru guru hanya bisa melihat tanpa berbuat , detik-detik akan terjadi kerusuhan di sekolah, aku mendengar suara tangisan amarah dan sebagainya, darah bercucuran, teriakan kesakitan, pikiran yang melayang, perasaan yang bergejolak, gemetar seluruh tubuh, setengah jam tawuran itu berlangsung, dari kejauhan terdengar sirine polisi, dan mereka yang masih berlari berhamburan meninggalkan sekolah maksudku mereka dari sekolah lain, waktu itu aku mendapat pitak dikepala karena terkena lemparan batu, waw rasa sakit itu tersalib oleh amarah ingin membalas. Aku hanya tertegun melihat sekeliling, aku baru sadar, banyak sekali mereka yang tergeletak entah dari sekolah kami ataupun lain dilumuri darah, ada juga yang gemetar karena ketakutan atau mentalnya beunang, aku berempat dengan temanku (Egy, Dani, dan Riyan) masih bisa berdiri, dan mungkin 30 orang lainnya kira kira, kurang setengahnya.

  Gerimispun datang waktu itu, guru-guru yang dimintai keterangan, dan menyuruh murid yang tidak ikut dalam insiden itu atau masih kuat untuk merawat mereka yang pingsan dan terluka, haripun bertambah sore dengan hujan yang tak kunjung reda, disitulah zam-zam menyapa kita,
  "Tadi permainan yang bagus"
  "Haa, , itu hanya keberuntungan kami" Egy, hanya tersenyum hanya tersenyum sambil nahan rasa sakit.
  " lain kali, kita bekerja sama" sambil menyodorkan lenganya
  "Okeee" jawab Dani sambil berjabat tangan.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "1. Setengah dari satu"

Post a Comment