Cerita Saat Aku Kecil Bagian Dua
Saat itu pas aku tidur nyenyak-nyenyaknya, lagi mimpi indah, makan permen sama coklat yang enggak abis-abis, lagi ngemut-ngemut jempol, eh ada orang yang narik kepala, iya jelas aja aku nangis, nangis sambil mata tertutup saking kecewa, nangis sampai engak ngalir lagi air mata, nangis sampai aku bobo lagi, cape, tidur aja butuh energi, ini coba nangis, ngebuang-buang energi aja.
Pas bangun, aduh sial, kok silau amat, enggak ada kecamata hitam lagi, ini aku dimana emang, enggak ada din-ding, enggak ngerasa hangat, ini aku diapakan, dikasih penutup tubuh, dibuntel enggak jelas, tubuhku susah digerakan, enggak nyaman, aku nangis lagi, nangis sampe bobo lagi.
Aku terpaksa terbangun lagi, karena ngerasa ada yang kosong di perutku, ngerasa lapar kalo kata sekarang mah, maklum masih amatiran di bumi, jadi kampungan waktu itu, iyalah kampungan, aku kan orang kampung, aku mau ngomong waktu itu, tapi enggak bisa, susah gitu, lagian enggak tahu mau ngomong apa, aku tidak ingin cengeng, tidak ingin nangis lagi, aku coba gak nangis waktu itu, aku tahan, tapi mataku tetap berbinar-binar, aku tutupkan mulutku rapat-rapat, tapi tetap aja gak bisa nahan, aku nangis malah makin dahsyat, sampai-sampai ngebangunin orang di dekatku yang selalu mengulas-ngulas kepalaku, entahlah aku ngerasa dia itu berbeda, dia langsung mengangkat tubuhku yang rapuh ini, aku jadi berhenti nangis, takut dilempar, enggak lah bukan gitu, dia lihat mataku, aku hanya lihat wajahnya, dia malah nangis, padahal tadi aku yang nangis, dia ngelus kepalaku dan berkata "Sekarang aku jadi seorang ibu" dia meluk aku sangat erat hampir saja aku pingsan waktu itu, aku nangis ajah lagi dan benar aku yang sedang lapar dikasih makan, sampai aku tertidur lagi.
Pas aku bangun lagi dan lagi, banyak orang waktu itu yang ngelihatin aku yang sedang terbaring lesu, tatapan mereka buat aku takut, tatapan ingin melukai, aku pura-pura tidur aja, tapi badanku malah digoyang-goyangin, pipiku malah dicubit-cubit, mereka malah berisik, aku jadi enggak betah mau marah juga enggak bisa, aku buka mata terus aku pelototi dengan ekspresi kesal, tapi mereka malah tertawa, itu sakit sob, coba aja bayangin, aku marah mereka malah tertawa, aku nangis aja, sangat kencang, akhirnya ibuku datang nyelamatin hidupku yang terancam, dia langsung gendong aku, aku lirik mereka dengan tersenyum jahat "rasain lo",
Dari situlah awal mula kenapa aku jadi doyan nangis, karena saat itu ibuku dan ayahku selalu tahu apa yang aku inginkan, mereka itu selalu ngerti akan keadaanku yang entah kenapa jadi lembek gini, jadi kecil kalo dibandingkan mereka, jadi enggak berguna, jadi enggak tahu apa-apa, tapi semuanya berakhir ketika aku bisa ngomong, tiiidddaaakkk, jangan dulu jauh-jauh lewatnya, ini masih kangen ngebayangin gimana dulu yang aku masih bayi.
Btw kalian yang baca senyum dong, aku dulu itu lucu loh, imut, suka ngebuat orang tuaku seneng, tertawa, bangga punya jagoan kecil kaya aku, enggak kaya sekarang 😢😢, jadi terlalu tampan.
Lanjut ke cerita, sesudah nyawaku terselamatkan, ibu malah membawa aku kembali ke mereka, kejam kau ibu, dia langsung simpan aku di tengah-tengah binatang buas, aku yang seorang lelaki sejati, masa mau cengeng, malu sama doi, di keadaan darurat itu aku berusaha bersikap wajar, ada yang nyentuh tubuhku, aku gigit, dia malah tertawa, aku cakar, dia masih tertawa, aku kencingin, dia nangis, aku yang tertawa, mampus.
Itulah salah-satu tips buat kalian para bayi, supaya terhindar dari marabahaya, supaya enggak kena yang enggak-enggak, makannya jadi bayi harus cerdas.
Seminggu pun berlalu, sekarang aku sudah mulai terbiasa jadi bayi, iya jadi bayi yang setiap hari selalu disakiti oleh orang-orang di sekitarku, karena itulah kenapa sekarang hatiku berotot, diputusin cewek aja gak nangis, aku kencingin aja dia, dia yang nangis.
Waktu itu badanku panas sekali, mataku susah dibuka lebar, tanganku menggigil, aku pikir mungkin aku bisa ngeluarin jurus api waktu itu, karena aku melihat semua orang didekatku nangis, mereka pasti kesakitan oleh kekuatan apiku.
Karena terlalu cape ngeluarin jurus api, aku malah tertidur, tapi sekarang rasanya beda, aku merasa sangat ringan, merasa akan terbang gitu, mungkin ini jurus baru yang aku dapat, ngerasa nyaman dikeadaan seperti ini, aku terbang, yes asik.
Terus saat terbang aku melihat bayi yang lain sedang ditangisi banyak orang dan dipeluk ibu dan ayahku, entah kenapa aku jadi sedih gitu, aku juga ingin depeluk daripada bisa terbang seperti ini, aku turun lagi, tidak ada yang melihat kearahku, mereka malah menangisi bayi itu, aku teriak, enggak ada yang dengar, aku nangis, enggak ada yang peduli, aku marah dong, aku terbang dekati bayi sialan itu, ternyata dia sedang tidur, wah ternyata bayi itu punya jurus es, badanya dingin sekali.
"Anguun angguun ciaalaan" aku tonjok-tonjok mukanya waktu itu, aku kencingin mukanya, tapi krik-krik, dia tetap tidur, malah aku merasa bersalah, aku dekati lagi, aku bersihin mukanya, aku nangis dan berkata dalam hati "kenapa? Kenapa? Ibu? Ayah? Kenapa kalian enggak tahu kalau aku disini ibu? Aku ada didekatmu, aku ingin juga dipeluk begitu ibu, aku lapar ibu, aku kencing dicelana, apa ini kekuatan baruku ibu? Aku ingin dilihat ibu (nangis makin kenceng), aku ingin diperlakukan layaknya bayi biasa, aku enggak mau jadi bayi super, aku ingin berada di posisi dia yang sukanya hanya tidur mulu ibu, aku enggak ingin bisa terbang gini, aku ingin dipeluk, ibu, ibu, ibu" aku nangis sampai-sampai enggak ingat apa-apa dan pas bangun aku melihat ibu dan semua orang yang ada disitu tersenyum, tapi malah menangis lagi, aku masih dipeluk ibuku waktu itu, aku bahagia aku jadi normal lagi tapi ini kok rasa asin dimukaku, bau kencing, aku gak peduli, aku ulas-ulas rambut ibuku yang berantakan karena nangis, aku tertawa bahagia bisa jadi seperti ini lagi aku bahagia, aku tidak ingin punya kekuatan super lagi.
Sebulan pun berlalu, waktu itu kehidupanku normal, nangis, makan, tidur, buang air, dipermainkan orang, marah, dipeluk ibu, normal aja, sampai aku melihat sesuatu yang merayap di din-ding.
Aku perhatikan dia, kerjaanya hanya mondar-mandir terus nertawain gitu, dia itu kecil, punya ekor, kaya aku dulu, mungkin seukuran jika tanganku ada yang motong, terus dibagi empat, iiihh ngilu, dari dialah aku belajar membalikan badan, nangkuban bahasa spesies akumah.
Aku pemanasan dulu waktu itu, akuangkat badanku kekanan kekiri, tapi hasilnya nihil, itu karena kepalaku yang terbilang besar mungkin, jadi berat gituh, tapi aku tidak menyerah, terus saja aku lakukan dan berhasil, tapi aku malah nangis, pengap gitu, susah napas, aku hampir pingsan, untung ibuku datang dan membalikan tubuhku lagi.
Tapi sensasi saat telungkup itu membuat aku penasaran dan ingin aku cobalagi, iyaaaah berhasil, tanpa sesusah kemarin, aku tahan tubuhku dengan tanganku supaya enggak pengap, si dia(cik-cak) malah nertawain, aku marah, aku kejar dia naik tembok, enggak lah, ngawur, dia nertawain liat aku yang kaya cacing kepanasan, aku mau gerak susah, aku marah, aku nangis.
Sebulan kemudian aku bisa ngerayap kaya dia, yes, dia tertawa aku juga tertawa, dia ngerayap, aku juga ikut, kami jadi teman baik waktu itu, dia selalu ngelindungi aku dari gigitan nyamuk yang membuat pipiku merah gatal.
aku coba merayap keluar dari rumah, sambil tertawa, aku bebas, ibu sedang masak waktu itu, aku merayap ke jalan, banyak yang aneh waktu itu, ada yang kakinya berputar, terus kepalanya nyala, ada yang terbang kaya aku dulu, tapi ngeluarin asap, ada yang besar sekali kakinya emat dan ada yang lebih besar kakinya banyak, tapi berisik sekali, aku gak bakalan bisa tidur, aku terus merayap kepinggir jalan, dan lihat dia yang meong-meongan, dia putih, kakinya empat, tapi enggak muter, berekor sama, ada kumisnya, aku panggil dia "nayuto", bego, naruto enggak ada ekornya, dulu dia punya, waktu masih < 1 mm, si meong mendekat, simeong lucu, ukuranya hampir sama denganku.
Aku lihat lihat, kenapa dia enggak merayap gitu kaya aku padahalkan kita hampir sama, dia itu malah ngoronang (Merangkak) bahasa kampungku mah, aku tertarik, ingin coba, aku siap-siap ambil posisi sama, aku angkat eeuuuhhhb berat betul tubuhku, aku malah sedih, aku nangis, si meong malah ngelihatin saja dari dekat, aku pegang kakinya dan wah keluar cakar kaya X-man, aku kaget senang dan mulai akrab denganya waktu itu, sampai-sampai dia ngegigit belakang bajuku terus aku dibawa ke mamahku waktu itu, "meong meong meong, meong meong meong, meong, meong meong", si meong marah ke ibu aku waktu itu dan ibuku kasih dia ikan goreng, langsung saja pergi dia.
Sebulan kemudian lagi aku bisa kaya si meong, ngoronang, aku datang ke si cikcak, aku perlihatkan apa yang aku bisa, si cicak malah nangis, dia marah, dan kamipun enggak berteman lagi sesudah itu, aku jadi digigit nyamuk lagi, untung ada ibuku yang bisa ngebunuh nyamuk, kejam ibuku, padahal nyamuk itu sedang lapar.
Tak lama sesudah itu, aku udah mulai bisa ngomong, ibu membawaku ke rumah temennya waktu dulu, ibu malah ngobrol dengan temannya, aku malah panas kuping mendengarnya, terus aku turun dari pangkuan ibuku dan merangkak menuju kamar yang terbuka sedikit pintunya, mungkin karena jiwaku jiwa petualang, aku jadi penasaran ingin melihat ada apa di dalamnya.
krreek, aku dorong pintu itu, euh aku terjatuh dan melihat ada bayi lagi di sana, rambutnya agak panjang keritig sedikit dengan mata hampir bulat cerah memakai pakaian ping dan terlihat ribet sekali, dia sedang main rumah-rumahan bersama bonekanya yang hampir seukuran dengannya, aku juga kira awalnya mereka berdua itu hidup, tapi cuma satu.
Aku merangkak mendekatinya karena aku juga ingin maen yang seperti itu, pas aku mau ngambil salah satu mainannya, dia berdiri, aku terkejut, dia langsung nendang wajahku, itu sakit, tapi aku belum bisa berdiri jadi enggak bisa balas aku simpan lagi mainannya dan senyum kedia "ini mainannya enggak jadi, heeee" aku pergi darinya dan kembali lagi ke ibuku, pas keluar dari ruangan itu aku nangis, aku ngadu ke ibuku, ingin mainan kaya gitu.
Ibu malah tertawa "nanti di beliin mobil-mobilan" katanya, aku jadi berhenti nangis. Tapi Si Brengsek yang tadi malah mengikutiku keluar, aku jadi takut lagi, aku ngumpet ke dalam baju ibuku, dia bilang ke ibunya. "mamah tadi ada penculi aku tendang, itutuh yang ngumpet" katanya, kringatku langsung kluar, aku sangat takut mamah marah, karena mamah seering bilang harus jadi anak baik, soleh, pintar, jujur, katanya.
Tapi ibuku malah tertawa, dia ngeluarin aku yang ngumpet dan menyimpanku langsung di dekat bayi sialan itu, "Namanya Listi, kalian harus baikan dan berteman, Listi umurnya 1,5 tahun, kamu baru 9 Bulan" jadi hormati dia.
Aku langsung meminta maaf padanya dan kamipun jadi teman, aku belajar berdiri dan berjalan juga darinya, kami jadi sering main bareng, pas genap umurku 1 tahun aku udah mulai bisa berjalan, sekarang Listi udah jadi . . . . .

Belum ada tanggapan untuk "Cerita Saat Aku Kecil Bagian Dua"
Post a Comment