![]() |
| air terjun Cipalu |
Waktu itu pulang sekolah, kira-kira jam 2 siangan WIB, aku pergi ke tepi sungai bersama enam temanku untuk ngeliwet, nama sungainya Cipalu, katanya sungai itu rada angker menurut warga sekitar, namun saat sampai di sana, entah dimana angkernya, nyatanya pemandangannya indah.
Kami pun membagi kelompok untuk kerja, Aku, Panji, dan Dayat harus mencari kayu bakar ke hutan yang tidak berada tidak jauh. Dani dan Indra bertugas untuk menyalakan hawu (tungku api) dan menanak nasi di sawung terbuka, yang hanya mempunyai atap dan tempat untuk istirahat. Terus Andri dan Hendri mencari sebangsa lalab-lalab, pastinya harus nganmbil punya orang, tapi mau gimana lagi, biar enak, lagian seperti itu sudah biasa kami lakukan.
Pas masuk ke hutan, rasanya aku enggak enak hati lihat pohon-pohon yang sombong menjulang ke atas terus tidak pernah dicukur (potong rambut), jadinya aku menyerukan Panji dan Dayat untuk cepat-cepat dalam mengumpulkan kayu bakarnya. Entah kenapa bulu romaku malah berdiri dan aku rasa mereka juga sama, bisa dilihat dari muka dan tingkah laku ketika orang sedang takut, tapi so soan pemberani, jadinya kami bergegas dan langsung pergi menuju Andri dan Hendri yang kulihat dari kejauhan sedang berusaha menyalakan api.
"Tadi di hutan itu angker ya" kataku ke mereka seraya menunjuk ke arah hutan itu, "Ah, elomah cemen, dasar penakut" sahut Andri seraya muka ngeledek. Aku tidak menanggapinya karena emang hatiku masih merasa enggak enak, serasa ada yang ngikutin, ah mungkin hanya perasaanku saja.
Kami semua pun sudah berkumpul di saung dan hanya tinggal menunggu nasi matang. Karena mungkin terlalu lama menunggu, jadinya ya bosan juga, Andri mengajak kita semua untuk berenang di sungai. Semuanya mungkin dari tadi berpikiran seperti itu, hanya mending sekarang atau nanti sesudah makan, tapi ya aku rasa enggak salah kalau sekarang juga, nanti gantian yang jagain nasinya.
Aku pun melepas pakaianku dan siap-siap loncat ke sungai, walau aku takut terbentur ke batu, karena emang banyak sekali, apalagi di sebelah kiriku banyak batu yang sangat besar, tapi aku loncat juga karena bakalan malu sama yang lain. Yang jaga di saung Andri waktu itu, padahal dia yang ngajak, tapi dia kalah dalam permainan pemilihan urutan, aku menjadi penjaga ke tiga.
Ketika berenang aku menyarankan untuk ucing kepala, jadi kalau ingin menang si yang jadi ucing nya harus ngincar kepala pake tangan disentuh. Indra yang terpilih jadi ucing dan permainan pun di mulai.
Indra berenang ke arahku, aku langsung sileum (masuk ke dalam air), tapi karena airnya enggak jernih seperti kolam-kolam yang transparan, aku harus menutup mataku dan menggunakan insting binatang (salah satu kegunaan indra ke enam) untuk berenang menjauh dari si ucing. Dan tada, aku berhasil, si ucing enggak melihatku berenang ke kebalikan dari arahnya. Oh iya kedalaman sungai itu juga berpariasi, ada yang dalam sampai enggak tahu sedalam gimana, kalau maksa di turunin saat berenang takut enggak ke atas lagi, ada juga yang dangkal, mungki satu meteran saja. Aku hanya melihat si ucing dengan tertawa ngejar yang lain. Tapi, keadaan berubah setelah Si Panji benang oleh si ucing dan ucingnya jadi dua orang,
Si ucing bersekongkol untuk menangkapku, tapi aku akan berusaha untuk tidak tertangkap. Aksi kejar kejaran pun berlangsung selama dua menitan, aku menyerah karena saat menyelam dan berenang kepalaku nubruk batu, itu sangat menyakitkan sampai ada benjola besar di dahiku bagian kiri, aku malah di tertawakan. ucingnya pun jadi tiga orang termasuk aku, kami bersekongkol untuk nangkap Dayat, dia itu yang paling gesit dalam berenang dan lari dari kekacawan, aku pun mengejar dia dengan hasil nihil dia seperti belut, licinya minta ampun. Aku kejar lagi, aku sekarang mencoba taktik yang berbeda yaitu dengan menangkap kakinya dilu saat berenang, pas aku menyelam ke arahnya betisku terbentur ke sesuatu yang runcing, membuat aku ke atas lagi untuk melihat apa yang terjadi dengan betisku. Pas aku lihat ternyata berdarah dengan luka cukup panjang saejengkalan mungkin, cukup untuk membunuh sekumpuln berudu. Aku pun meminta izin kepada mereka untuk berhenti bermain dan berganti dengan Andri menjaga nasi di saung.
Pas aku lihat lagi sembari mengatur besar kecilnya api, ternyata lukaku seperti dicakar sesuatu, aku langsung merasa enggak enak hati, aku lihat ke arah pohon dan teringat dengan suasana ketika tadi, aku alihkan ke arah di sebelah mana tadi betisku terbentur, ternyaka di bagian tengah sungai, padahal harusnya di sana itu dalam sekali, apa karena aku nyelam terlalu dalam pikirku, iyu mungkin aku jawab supaya enggak berpikiran yang aneh-aneh.
Tapi, tidak lama kemudian aku mendengar suarajeritan yang sangat kencangdari mereka yang sedang asyik berenang, serentak hatiku gak karuan lagi. Aku melihat mereka segera beranjak naik dari sungai itu. Aku lihat Panji di gandeng oleh Andri dan Indra, ternyata kaki Panji berdarah. Aku melihat Panji meringis sangat kesakitan karena dua jari kakinyanya enggak ada, kami pun bingung bagaimana cara mengobati-mrnenangkannya dan memutuskan untuk bergegas pulang dan membawa liwetnya, berhubung hari juga sudah hampir jam 5 sore WIB.
Pas kita membereskan barang-barang yang akan dibawa, terus bertiup suara angin kencang yang berasal dari hutan beserta langit tiba-tiba menjadi sangat mendung sekali, kami pun meninggalkan barang-barang dan nasi yang sebentar lagi matang. Kami bergegas untuk segera pulang dan merawat Panji.
Kami kehujanan dan melihat arus sungai yang datang secara tiba-tiba dari agak kejauhan, ternyata saung yang tadi kami singgahi terbawa arus. Aku sangat terkejut sekali melihatnya karena andaikan tadi enggak terburu-buru, mungkin kami juga akan ikut terbawa.
Setelah mengantar Panji ke rumahnya dan diomelin orang tuanya aku pun merasa sangat bersalah, tapi mau gimana lagi namanya juga kecelakaan, kakiku juga harus diobati, dahiku nyut-nyutan.
Pas sampai di rumah aku merasa akan enggak enak badan, aku mulai merasa menggigil kedinginan, mataku mulai berbinar-binar, perasaanku mulai tak karuan, aku takut kesamet gara-gara main di hutan tadi.
Besoknya aku sakit beneran dan enggak sekolah, aku hanya berbaring di kasur dengqn indahnya. Pas siang hari ibuku masuk ke kamarku dan berkata teman-temanku banyak yang sakit dan itu adalah mereka semua yang kemarin maen bersamaku di sungai.
Hatiku mulai enggak enak, mungkin benar aku kesambet tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
Keesokan harinya suhu tubuhku malah makin panas, padahal aku sudah berobat, aku mulai merasa berat untuk bergerak dsn melangkah kemana-mana, aku berpikir apakah mereka semua merasakan apa yang aku rasa, ditambah kakiku yang merasa panas, aku berpikir apakah jari panji akan tumbuh kembali atau diganti dengan jari palsu, melihatnya saja sudah membuatku ngilu, apalagi kalau aku ada dikeadaanya, iiihhh.
Ketika malam aku agak susah tidur padahal sudah jam sembilan, biasanya gadang, tapi karena aku harus istirahat jadinya aku mencoba untuk menghitung kambing, tapi tetap gagal, wku coba menghitung kakinya kambing, masih tetap aku sadar, aku jadinya menghitung bulu kambing dan kewalahan terus aku rasa aku tidur.
Aku bermimpi bahwa aku melihat Andri, Indra, Dayat, Panji, Dani, dan Hendri sedang berkumpul, terus aku datang ke mereka, entahlah aku merasa ini bukanlah mimpi, aku melihat sekeliling semunya berwarna merah, tapi aku tidak merasa aneh dengan tempatnya, yang tidak lain adalah tempat kami waktu itu ngliwet, karena di depan kami terlihat jelas sungai yang waktu itu aku berenang di sana.
Aku sapa mereka dan berkumpul layaknya biasa, aku bertanya "ini mimpi atau apa?" Panji menjawab "Aku rasa ini nyata, soalnya aku merasakan sakit di sini ", karena penasaran aku cubit kulitku dan ternyata emang benar terasa. Serentak aku langsung merasa panik dan kami semua pun saling bertatapan dengan perasaan keheranan dan ketakutan yang amat luar biasa.
AAAARRRGGGGGHHHH. . . . Aku mendengar suara raungan dari arah sungai, kakiku jadi gemetar ketakutan, hanya perasaan takut yang aku rasa, aku melihat sesosok biyawak yang amat besar, aku rasa lebih besar daripada buaya biasa. Kamipun berhamburan lari, aku lari ke arah hutan bersama Andri dan Indra, terus yang lainya enggak tahu entah kemana.
Tak lama kemudian Dani, Hendri, dan Dayat datang ke arah kami dengan lari terengah engah, mereka panik katanya Panji dimakan oleh biywak itu, Aku sangat syok mendengarpernyataan mereka dan AAAARRRGGGGHH. . . . .aku berteriak ternyata tadi cuman mimpi, keluargaku langsung berdatangan ke kamarku, katanya aku tadi triak-triak sat lagi tidur, mamah jadi cemas, ucapnya seraya mengambilkanu segelas air putih.
Aku pun langsung menceritakan semuanya pada keluargaku, dari aku yang bermain di sungai-mimpi. Mamahku kaget mendengarnya, terus menceritakan cerita saat dulu yang terjadi di sana, ceritanya panjang sekali tapi garis besarnya adalah bahwa dulu kala saat usia mamah baru 6 tahun, di sana terjadi tragedi pembunuhan pada maling yang berjumlah dua orang, karena mereka mempunyai kekuatan hitam dan tidak mati-mati saat di pukuli-dibacok, akhirnya kata 'orang bisa' nyaranin cara untuk membunuh mereka, yang pertama adalah mutilasi dan simpan bagian-bagian tubuhnya di tempat yang berbeda, yaitu di hutan pinggir sungai itu dan yang satu lagi harus di tindihan ditenggelamkan ke sungai, yah batu besar yang ada di sungai itu adalah kuburan maling yang satunya lagi, para warga ngangkat batu itu bersama-sama dan menggulingkanya tepat ke dia(maling), sesudah itu tidak terdengar lagi kejadian maling di desa ini, tapi katanya tempat-tempat itu jadi angker.
Aku yang mendengar cerita itu hanya terpaku setengah tak percaya, tak lama aku nangis takut terjadi apa-apa, tapi apa daya karena semuanya telah terjadi.
Pada saat makan pagi, ada pengumuman di desa sebelah jikalau ada yang meninggal, hatiku mulai merasa enggak enak, aku coba mendengar suara yang samar-samar itu, ternyata tak lain yang meninggal adalah Panji teman dekatku, aku tak percaya mendengarnya, seakan baru kemarin aku bercanda tawa dengannya dan sekarang Panji sudah beda alam.
Siangnya aku ikut ke pemakamannya, walau keadaan badan sedang sakit, tapi aku paksakan, suaratangis terdengar di sekelilingku, aku? plus takut yang menyelimuti. Aku melihat semua temanku sama, semuanya terlihat pucat, aku bertanya pada mereka, "semalam kalian mimpi apa?" aku kaget mendengarnya ternyata mimpiku dan mimpi temanku sewaktu malam sama.
Mamahku mendatangkan orang bisa untuk menetlalisir sesuatu yang menyelimutiku, aku pun dijampe-jampe, tapi si orang bisa itu malah muntah darah dan menyerah enggak sanggup, dia langsung beranjak pergi dengan wajah takut. Tidak lama kemudian terdengar gemuruh warga lumayan agak jauh dari rumah, ternyata si orang bisa itu kecelakaan tunggal dan meninggal dengan mengenaskan, darah keluar dari setiap lubang-lubang tubuhnya.
Pikiranku sudah enggak normal waktu itu, serasa terimindasi oleh sesuatu yang enggak tahu itu apa. Malampun tiba dan aku mencoba untuk tetap terjaga, tapi aku enggak bisa malah ketiduran, tapi alhamdulillah saat pagi aku bangun tidak mimpi apa-apa. Aku rasa sesuatu seperti kemain tidak akan terulang kembali, aku merasa sedikit lega, hanya saja keadaanku tidak membaik membaik.
Besoknya juga sama, mamahku mendatangkan dokter dan obatku malah makin numpuk, tapi tidak kunjung membaik, malamnya alhamdlillah tidak terjadi apa-apa.
Malam besoknya aku merasa sudah tengang, aku tidur agak awal, dan aku kembali bermimpi berada di dekat sungai itu sendirian dengan warna suasana yang kemerah merahan, aku sangat syok sekali dan langsung berlari ke arah kampungku dengan rasa takut yang amat besar sekali jarak yang lumayan jauh dengan pandangan buram karena malam, aku terus berlari sampai capeku enggak terasa karena ketakutan ku.
Sesudah setengah jaman berlari aku sampai di depan rumahku, ternyata aku bisa tembus ke tembok dan enggak terlihat oleh orang-orang di sekitarku, aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya aku waktu itu melihat diriku sedang berbaring di tempat tidur. Tapi, aku rasa aku bisa kembali ke tubuhku dengan berbaring masuk ke dalamnya seperti de cerita-cerita yang aku baca dan memang benar aku bangun lagi dengan tubuh asliku. Terus aku langsung minum air dengan indahnya karena merasa sangat haus sekali, aku sangatketakutan dan berusaha untuk tetap terjaga semalaman, rasakantuku juga sudah menghilah berganti rasa takut.
Besoknya aku mendengar pengumuman semar-semar suara orang meninggal lagi, DEG DEG DEG, jantungku langsung berdebar dengan kencang, pikiranku langsung tertuju pada teman-temanku yang lainya. Dan, ternyata benar, sekarang yang meninggal adalah Dayat dan Dani.
Keluargaku langsung panik menanyakan keadaanku, aku hanya tak bisaberkata-katalagi mendengartemanku meninggal, aku yang hanya lari memikirkan diri sendiri, tapi aku mulaimengerti dengan apa yang terjadi padaku, mungkin sukmaku bisa keluar dari tubuh dan tertanda di tempat itu.
Siangnya aku memaksakan diri lagi untuk melihat pemakaman teman-temanku, aku tidak melihat Andi, Indra, dan Hendri disana, kata orang tua mereka, bahwa penyakit mereka tambah parah. Setelah itu aku mendengar omongan-omongan orang tua aku dengan orang tua teman-temanku untuk tidak menjauhkan mereka berempat dan memanggil ulama ke sini.
Sore harinya aku di bawa orang tua ku ke rumah Hendri, kmi berenpat bertemu di sana, karena emang rumah Hendri itu sangat besar. Aku bertemu tanpa kata apa-apa, aku melihat muka mereka sangat pucat sekali, jadi aku termasuk yang paling sehat jika dibandingkan mereka dan aku tidak tahu entah kenapa.
Ulama itu pun datang dan menyuruh orang tua untuk meninggalkannya dengan kita berempat. Kami satu kamar, kamarnya emang sangat luas. Ulama itu bertanya karena mereka bertiga hanya menatap kosong seakan kesadarannya hampir tidak ada atau malah mendekati seperti orang gila, aku bercerita kronologi kejadiannya. Ustad itu pun berdoa dan menetralkan suasana sekeliling kita, aku langsung merasa agak baikan,aku melihat tidak berefek pada mereka, katanya jiwa mereka enggak kuat, mungkin karenasemalam aku langsung lari dan aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada mereka, aku merasa bersalah dan sangat sedih, aku tidak ingin kehilangan sahabatku lagi, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya bagaimana cara kami agar terbebas dari apa yang menimpa kami, ustad itu menjawab, "aku tidak bisa menyalahkan mereka (mungkin bangsa lain pikirku) karena kalian juga yang menggangu, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan kalian semua (sebab ketidak tahuan kalian), jadi bagaimana kalau kalian selesaikan sendiri masalah ini" katanya "bagaimana caranya?" aku tanya balik. "kalian hanya perlu membunuh mereka, sebab kalian sudah ditandai oleh mereka" aku langsung merasa takut sekali, ternyata yang mengganggu kami lebih dari satu, aku mendengarkan bagaimana caranya dan aku diberikan secercah bacaan berlapaz arab yang aku tidak tahu apa maksudnya, yang pasti malam ini aku harus membunuh yang mengganggu kami, teman-temanku hanya mengangguk menandakan mereka juga mengerti dan ustad itu pamit untuk pulang.
Malamnya sesudah solat isya sesuai apa yang telah dikatakan pada kita untuk tidur secara bersamaan, kami pun mulai untuk tidur walau banyak sekali dari orang tua kita untuk tidak setuju, tapi kadang apa yang kita perbuat kita harus bertanggung jawab.
Kita pun kembali ke tempat dimana semuanya berawal, terlihat sangat jelas di depan kami terdapat empat pedang yang bercahaya, mungkin ini isi isimnya pikirku. Aku pun mengambil pedang itu dengan mencoba memberanikan diri. Tak lama kemudian suara menyeramkan mulai terdengar dari arah sungai terus dari arah hutan, kalau bukan karena amarah karena kehilangan tiga teman mungkin aku sudah lari dari sini, tapi aku sangat ingin menancapkan pedang ini kepada sesuatu yang aku enggak tahu seperti apa bentuk aslinya itu.
Untung sekarang sedang bulan purnama, jadi aku bisa melihat pijakan dengan lumayan jelas, mataku juga sudah tidak melihat sesuatu dengan warna kemerahan semuanya, aku mencoba untuk memberanikan diriku, tapi pas aku lihat sesuatu yang muncul dari arah sungai dan hutan, aku hampir tidak bisa bergerak, terlihat cucuran entah itu air atau darah, rambut yang sangat panjang tak terawat, pakaian sobek di mana-mana. Hendri malah lari dan menjatuhkan pedangnya, kami meneriaki untuk kembali tapi dia enggak dengar dan malah terus lari terbirit birit, kedua setan itu malah bergerak dengan cepat mengejar Hendri, aku, Indra dan Andri pun mengejar si setan itu, aku gak lupa membawa pedang yang di jatuhakan oleh Hendri.
Aksi kejar-kejaran pun berlangsung, aku sudah merasa enggak takut tapi aku marah, aku melihat Hendri terjatuh dan si setan itu menyergap Hendri, aku langsung berlari dengan berpikir ingin membunuhnya sebelum terlambat, pas ingin segera aku tebas setan itu menghindar menjauh, aku melihat tangan Hendri yang kiri locot dan Hendri berteriak kesakitan, aaaaaarrrrrggghhh aku sangat marah sekali, aku bicara ke Andri dan Indra untuk membunuh yang satunya lagi, biar yang ini aku urus sendiri.
Mereka malah tertawa ciiit ciiiit ciiiit seraya melahap tangan kiri Hendri, amarahku meledak dan aku bertarung dengan setan yang aku takuti tampaknya, aku tidak tahu berapa lama aku bertarung tapi akhirnya aku bisa menebas kepalanya dan terpisah dari tubuhnya, aku langsung mencincangnya sampai remuk, aku tebas tangan dan kakinya aku keluarkan dalaman tubuhnya, aku ludahi mayatnya. Terus aksiku dihentikan oleh Andri dan Indra, mereka bilang semuanya sudah berakhir, aku tidak tahu apa yag aku rasa, sedih, kecewa, bahagia, marah, semuanya bercampur menjadi satu.
Kami pun kembali ke tubuh kami, aku langsung merasa sehat sekali, tapi tangan kiri Hendri tidak bisa di gerakan.
Besoknya aku sekolah dan mendaftarkan diri ikut bela diri, aku pikir untuk jaga-jaga, karena emang sekarang mungkin indra ke enamku aktif dan aku bisa merasakan akan kehadiran sesuatu yang gaib, ditambah sukmaku yang bisa keluar dari tubuhku.
***
Hanya sampai disitu cerita yang aku temukan dari buku yang terletak di pinggir sungai Cipalu, aku juga enggak tahu siapa sebenarnya aku di atas itu, karen memang namanya enggak disebutin, mungkin aku akan mengarang kelanjutannya, bahwa Si Aku dan 3 orang temannya itu didatangi oleh ketua penunggu sungai Cipalu dan mereka berempat mati sebagai tumbal di Cipalu, karena di batu besar itu terdapat bacaan tolong kami, Andi, Indra, Andri, dan Hendri.
Aku langsung merasa takut kejadian seperti itu akan menimpaku selanjutnya, jadi agar kalian tidak merasa takut sendiri, lebih baik kalian sebar luaskan cerita ini.

ending ceritanya sangat luar biasa sob...bagi saya, cerita ini memiliki pesan yang luar biasa...semangat ya sob...mantap
ReplyDelete