Ada Apa Dengan Kita
Aku punya pacar yang beda sekolah, aku suka karena dia baik, soleh, tembem, dan punya tahilalat di bibirnya, aku sangat menyayanginya, sangat besar, kalian tahu luas samudra? Ini lebih, kalian tahu dalamnya palung di lautan? Ini lebih, kalian tahu tingginya gunung everest? Ini lebih, kalian tahu banyaknya atom sejagad? Ini lebih, pokok nya lebih, jangan berani-berani saja kalian sakiti dia, jika tidak ingin namamu saja yang pulang kerumah.
Awal cerita aku kenal dia pada saat SMP, aku melihatnya begitu aja karena emang waktu itu kita sesekolah, aku perhatikan, lama-lama perasaan aneh pun muncul yang emang udah sering aku alamin dan bisa nebak bahwa ini adalah cinta, aku terus memperhatikannya, aku cari tahu sesuatu mengenai dia, kalo malem aku ngendap-ngendap datang kerumahnya kaya maling, kalo siang aku datang kerumahnya nyamar jadi pengamen, apasih yang enggak aku lakukan untuk cinta, dia enggak cantik, tapi baik, dia itu ibarat nanas yang masih agak muda terus kita gigit langsung kunyah, nyegerin mata, dia itu ibarat kita lihat pemandangan di atas gunung, layaknya surga dunia, dia itu ibarat kita nyelem di antartika, bikin hati sejuk, dia itu ibarat kata-kata, gak ada habisnya dirangkai, iya gitulah jangan sok ngibaratkan, pokonya dia itu satu.
Aku kelas 1 dia kelas 2, jadi agak gereget gitu kalo cinta sama wanita yang lebih tua dari kitamah, ngerasa jadi berondong, haha, jadi bisa lebih bermanja-manja.
Akhirnya aku mendapatkan no HP nya, tanganku langsung bergetar waktu itu pas pegang HP, ada rentenir nelpon, sial sekali, aku angkat aja.
"Eh, bro, elu tuh ngancurin moment-moment berharga gue"
"Eh, elu cepet bayar hutang napa"
"lagi gak ada"
"Jual ginjal lu"
"isi perut gue udah gue kasih ke gebetan"
Kontaknya Hesty (udah tahu namanya), aku kasih nama BINTANG HIDUPKU, kenapa coba aku kasih nama gituh, padahal Hesty lebih dari bintang waktu itu, cobain aja bayangin, bintang itu memang indah, tapi harus banyak, adanya hanya malam, kalo siang dia tidur. Hesty itu memang indah walaupun hanya satu, adanya hampir setiap waktu, di kepala, kalo siang dia sekolah malamnya tidur. Kalau ada bener mesin waktu, aku ganti nama itu dengan MATAHARI HIDUPKU.
Pulang sekolah waktu itu langsung aku buka HP, pilih kontaknya, niatnya mau nge chat dia, aku ngetik, udah panjang-panjang, pas mau aku kirim entahlah jadi penakut waktu itu aku, aku hapus lagi kata-katanya, aku ketik lagi, udah kelihatan bener sekarang mah, terus aku malah urungkan lagi banyak pikiran gitu, takut ngelihat respon dari dia gimana, ngetik lagi sampai enggak bisa ditambah kata-katanya, dilihat udah bner ini kayanya, pas mau aku kirim, eh HP nya mati, HP aku mungkin jijik lihat aku yang enggak laki banget gituh.
Aku cas HP ku, terus aku chat langsung tanpa banyak berpikir.
"Hesty?"
"Kah, saha?"
"Mansur Syaputra Yang Selalu Mimpiin Kamu"
"Haah, jangan sok akrab yah kamu, jijik"
"Itu namaku"
"Ohh"
Seperti itulah kira-kira, tapi lambat laun kami juga jadi akrab.
"Hesty?"
"Kah, ada yang bisa saya bantu Acuy"
"Haah, jangan sok akrab yah kamu, jijik"
"WHHAATT, maksudnya apa lo?"
"heeeee, canda, maaf"
Iya seperti itulah nasib jadi lelaki, selalu salah dan harus mengalah biar bisa ngeluluhin hati sang pujaan.Tapi, karena aku bukan orang yang hanya bisa berkta-kata, bukan oang yang banyak janji belaka, bukan orang yang hanya bisa berdusta, bukan orang seperti mereka kebanyakan pemimpin negeri kita tercinta, becanda,heee, aku buktikan segala yang aku bisa padanya, dan akhirnya aku berakhir menjadi kekasihnya.
Ah, aku sangat bahagia sekali, siang ingat dia, sore ingat dia, malam terngiang-ngiang oleh dia, dia itu ibarat pagi, ditunggu ataupun enggak selalu saja mengahampiri, dia itu ibarat senja, tahu keindahannya jika kalian mengamati, mulai nih malah sok ngibaratkan lagi.
Tapi, hubungan indah itu tidak bertahan lama, hanya dua Bulanan, karena harus kandas oleh pihak yang tak bertanggung jawab, menyebarkan berita kebohongan bahwa sebenarnya aku selingkuh, padahan enggak, jika iya enggak masalah.
"kamu selingkuh ya?" tanyanya di SMS
"kata siapa? Enggak, mana mungkin aku berbuat seperti itu sama kamu"
"Bohong, aku gak percaya"
"Aku tidak bohong"
Dia enggak bales lagi, aku telepon malah enggak aktif. Aku gelisah, sedih, tentunya marah juga, tapi pada siapa, aku enggak tahu siapa dalang di balik konsvirasi ini.
Aku langsung ke rumahnya, dia enggak ada, aku tanya tukang warung, enggak tahu, aku tanya google, yang ada malah berita bahwa aku selingkuh, ah kacaw sekali.
Besoknya aku dekati di sekolah, dia malah menjauh, aku tanya di kejauhan, dia malah pura-pura enggak denger. Terus aku berusaha menjelaskannya padanya, tapi enggak memuahkan hasil yang ada malah semakin menjadi-jadi.
Seminggu kemudian dia malah memutuskan hubunganku dengannya, aku bukanya tidak ingin mempertahankan atau apa, tapi aku sayang sama dia, aku engga ingin merasa dia risih akan keadaanku, akan apa yang aku lakukan padanya, aku ingin membahagiakannya, paling tidak, tidak membuatnya sedih, tapi nyatanya, ya sudah aku ikhlaskan saja tanpa mengetahui siapa yang menebar garam di kuburan.
Waktu terus berlalu, mungkin yang namanya ucapan adalah do'a itu benar, pas kelas 2 SMP bukanya selingkuh, tapi aku selingkuhin selingkuhanku itu, jika aku tidak bisa membenarkannya, paling tidak aku akan membuatnya nyata, aku jadi ganas ke sana ke mari, aku lakukan ini dan itu, hanya untuk bisa melupakan Hesty.
Setiap hari aku jalani, saat Hesty tak membayangi adalah saat ada pengganti, kalau tidak seperti itu, ah bakalan kacau sekali.
Pas naik jadi kelas 3, Hesty pastinya udah ke SMA, Aku hanya jadi penguasa di sekolah, itu tak membuat aku bisa melupakan kenangan indah bersamanya, yang hanya sebentar saja, tapi entah kenapa dia seakan tidak terganti.
di SMA, aku dengar Hesty sudah punya pacar, aku hanya bisa mendoakannya supaya dia bahagia, jujur aku sedih, tapi mau gimana lagi, mungkin ini takdir.
Setelah sekolah bebas, ada yang menghubungiku dan ternyata itu adalah Hesty, dia curhat padaku akan kelakuan pacarnya, aku bahagia bisa chatan dengannya, aku juga sedih merasa seperti jadi selir hati gimana gitu, ya tapi mungkin seperti itulah jadi aku, kalau aku sudah tidak mempunyai peradaan padanya, tidak akan aku ladeni, hanya saja hati tidak bisa dibohongi, aku masih mengharapkannya.
Hubungan-hubungan gak jelas segera aku akhiri, berharap Hesti akan kembali, aku berusaha nahan diri, menjalani posisi yang hanya sebagai pengganti, mendengarkan dan berusaha sok mengerti, walau hati kadang menjerit merasa sakit, tapi aku rela demimu Hesti.
Aku terus menjalani hari-hariku seperti itu, tapi bukannya enggak tahan, tapi aku juga butuh kepastian, aku tahu sabar itu tidak ada batasannya, hanya aku juga sadar bahwa sabar itu pasti ada titik jenuhnya.
Ketika waktu itu datang, aku tanya dia untuk memilih aku atau pacarnya.
Dia malah menjawab "aku tidak akan memilih diantara kalian" dia meninggalkanku dan memutuskan pacarnya.
Mungkin sekali lagi aku merasa kecewa pada diriku karena malah membuatnya bimbang, tapi aku juga hanya sebatang manusia biasa yang ingin menguasai dunia dan memiliki segalanya.
Aku salah, aku hargai apa yang menjadi pilihannya, dan seketika sesudah itu aku tidak lagi berkomunikasi dengannya.
6 Bulan berlalu, aku sudah ganti seragam, aku tercengang pas melihat sttatus di sosmednya bahwa dia berpacaran dengan kekasihnya dulu, aku enggak langsung percaya, aku cari tahu kebenarannya, nanya ke teman-temannya, dan oleh teman dekatnya aku tahu bahwa dari dulu mereka tidak putus, hanya menyekenario cerita, supaya aku menjauh.
Aahhh, itu adalah kecewa dan yang sejenisnya dingan kecewa terhebat yang bsru aku alami selama hidup di Dunia yang pana ini, bagaimana tidak, dia yang sangat aku kagumi, sangat aku cintai, tega melakukan hsl keji, seperti membohongi diriku yang suci ini.
Tapi, paling tidak dari kejadian itulah perasaanku padanya mulai redup, aku jadi tahu kerasnya hidup.
Dari kejadian di ataslah sebagian temanku melaniku dengan sebutan "playboy galau".
Ref : Curahan Hati Mansur Syaputra

Wahahaha boleh juga tuh si Mansur suka ama yg lebih tua hahahay
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteBagus banget ceritanya 😊
ReplyDelete