Asal Aku Bahagia
Sesudah ditinggal nikah, aku pergi mencari angin segar untuk menenangkan hatiku yang retak ini, alhasil ketiup angin kencang gituh malah berterbangan, ini yang salah siapa? Kenapa harus selalu aku yang mengalah? Oh tuhan apa salahku, apa karena aku pernah ngencingin lubang semut sembarangan? Apa karena aku pernah matiin kaweha orang? Apa karena aku pernah buat pengumuman di masjid sembarangan? Apa karena aku pernah buat jebakan untuk ngedorangin orang? Itu kan dulu, waktu aku masih metal, waktu aku yang kecilnya belum berambut, sekarang udah beda, aku udah gak manja, aku udah dewasa, aku belajar gak nyakitin orang lagi, kecuali orang itu yang minta.
Aku galau, masih galau, sampai seketika aku terpana oleh pesona seorang wanita yang menggoda berjalan melewati mata, sampai-sampai aku tak bisa berkata apa-apa, jantungku berhenti berdetak, darahku berhenti mengalir, aku terpaku tak bergerak, keringat mulai bercucuran, firasat buruk mulai datang, ini rasa cinta pada pandangan pertama apa ketindihan coba? Astagfirullah astagfirullah, sensasinya gak jauh dekat-dekat seperti itu versiku.
Oh iya ini lanjutan post yang "Cinta dalam do'a" jika penasaran bisa dibaca dulu, kalau enggak ya tolonglah, "sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermaanfaat bagi orang lain" ini bermanfaat atau memanfaatkan? Jangan pernah mau, lagian aku juga sadar gak ada manfaatnya, hanya tulisan curahan hati yang sudah tak bisa tertampung dan aku lampiaskan.
Lanjut cerita aku mulai bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya, aku tanya temanku dia juga sama nanya, kamipun perang dingin, ternyata cinta ini bermasalah.
Sebagai seorang teman sejati disitu imanku diuji, karena emang hati tak bisa dibohongi, tapi apa daya aku juga ingin, aku hanya seorang manusia biasa dengan iman yang lemah, bukan superhero, bukan artis hollywood, bukan orang munafik, aku tantang aja dia, aku mengeluarin batu dan dia ngeluarin kertas, aku kalah, kertasnya ngebungkus golok gitu, aku lambaikan aja tangan ke kamera dan pulang dengan tangan berdarah, iya berdarah, masih utuh gak kegores.
Aku pulang, dia berjuang, enggak lah, aku bukan orang yang pantang menyerah, aku tergoda oleh bisikan yang menyesatkan, tapi aku suka, aku ketik di google ciri-ciri wanita itu, eh yang tampil ini apaan coba, internet baik, baiknya apaan, bukanya bantuin malah ngehalangin, aku prustasi, aku demo, "itu akun anak gua bah" dan jreeng jreeng jreeeng, bisa dibodoin juga si embahnya ya, lanjut pencarian berlanjut dan dengan perjuangan yang berat ini mulai memuahkan hasil, aku jadi tahu siapa dia, namanya acha, umurnya hampir sama, beda 1 dekadean, gak ada yang namanya teman dalam perlombaan, yang ada hanya kata-kata "siapa cepat dia dapat".
Besoknya aku bawa pedang dan posisi kita sama, acha datang, aku sapa.
"Acha yah?"
"Iyah, kamu emang siapa?"
"Aku Irwansyah, duet yu".
Aku menang telak dengan nama samaran, temanku tak berdaya, ada Acha jadi gak penting.
Kami semakin dekat, diapun semakin lekat, aku ke tongoh dia ikut, aku ke laneuh dia ikut, aku maju dia mundur, aku mundur dia maju, kami putsal bareng waktu itu, jadi tim yang kompak.
Tapi cerita indah bersamanya itu harus berakhir sekali lagi dengan mencengangkan, dia memutuskan transgener gitu, alasanya asikan kalo jadi laki,mainnya menegangkan mulu, memacu adrenalin katanya.
Aku merasa bersalah, harus bilang apa coba ke orang tuanya, karena bisikan itu datang lagi, aku angkat tangan aku putusin dia, aku menjauhinya dan alhamdulillah aku bisa.
Semingguan setelah itu, aku denger rumor tentang dia dan temanku dulu, katanya mereka pacaran, aku kaget gitu, aku cari lagi untuk memastikan dan emang benar, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri ngebayanginnya.

Keren - keren lahhhh
ReplyDelete